5 Keunggulan AKM dan SK dibandingkan UN yang Harus Diketahui Guru

5 Keunggulan AKM dan SK dibandingkan UN yang Harus Diketahui Guru

Selasa, 10 Maret 2020

Hasil gambar untuk nadiem dengan program akm

Merdekabelajar.my.id - Walaupun Ujian Nasional dihapuskan mulai tahun 2021 tetapi pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tetap harus mempunyai alat ukur pendidikan di Indonesia. Oleh karena itu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah menyiapkan pengganti Ujian Nasional yaitu Asesmen Kompetensi Minimal (AKM) dan Survey Karakter (SK) yang akan dilaksanakan di tengah jenjang pendidikan.

AKM dan SK mempunyai keunggulan dan kelebihan di bandingkan dengan UN. Selama ini asesmen dalam bentuk UN hanya untuk mengukur nilai kognitif siswa saja. Sementara nilai afektifnya tidak pernah terukur dengan baik karena tidak ada alat ukur yang tepat untuk melaksanakan penilaian afektif secara nasional. Nah, dengan AKM dan SK maka keduanya dapat mengukur baik kemampuan kognitif siswa maupun afektif siswa. Keduanya dapat seiring dan sejalan karena dilaksanakan pada waktu yang bersamaan.

Ada 5 keunggulan Asesmen Kompetensi Minimal dan Survey Karakter dibandingkan dengan Ujian Nasional yang sangat menarik untuk dibahas. Kelima keunggulan AKM dan SK dibandingkan dengan UN adalah sebagai berikut:

1. AKM dan SK di laksanakan di tengah jenjang sementara UN dilaksanakan di akhir jenjang

Dengan dilaksanakannya AKM dan SK di tengah jenjang pendidikan yaitu dikelas 4 SD, dikelas 8 SLTP, dan dikelas 11 SLTA memberikan waktu dan kesempatan kepada guru dan para siswa untuk mempersiapkan dan meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan hasil pembelajaran yang maksimal.

Dengan dilaksanakan AKM dan SK ditengah jenjang pendidikan maka hasil AKM dan SK menjadi tolak ukur untuk memperbaiki proses pembelajaran sehingga hasilnya akan lebih baik lagi menjelang para siswa menyelesaikan masa studinya. Bagi siswa yang belum mendapat nilai maksimal (rendah) maka masih ada waktu dan kesempatan untuk meningkatkan proses belajarnya sehingga akan mendapatkan nilai yang lebih baik lagi.

Begitu pula dengan siswa yang telah mendapatkan hasil maksimal dari AKM dan SK, maka para guru dan siswa akan lebih termotivasi lagi untuk meningkatkan kreativitas  belajar siswa  dan kreativitas guru dalam mengajar hingga pada akhirnya para siswa lebih maksimal lagi untuk mencapai hasil yang diharapkan.

Sementara, apabila kita flashback ke belakang dimana asesmen yang dilakukan dalam bentuk UN  yang pelaksanaannya di akhir jenjang pendidikan maka sudah pasti tidak akan merubah apapun. Karena pelaksanaan diakhir jenjang pendidikan maka baik sekolah dan siswa sudah tidak dapat melakukan lagi perbaikan dan peningkatan proses dan hasil pembelajaran berdasarkan capaian hasil Ujian Nasional pada masing-masing sekolah.

2. AKM dan SK tidak digunakan untuk seleksi jenjang pendidikan berikutnya tetapi untuk  perbaikan dan peningkatan kualitas pembelajaran sementara UN digunakan sebagai alat ukur untuk jenjang pendidikan berikutnya.

Karena AKM dan SK dilaksanakan ditengah jenjang pendidikan maka secara otomatis tidak dapat digunakan sebagai alat seleksi untuk penerimaan siswa baru untuk jenjang pendidikan berikutnya. Berbeda dengan hasil Ujian Nasional. Selama ini untuk menentukan seleksi layak tidak layaknya seorang siswa di terima di sebuah sekolah, maka biasanya sekolah masih melihat dari capaian hasil UN. Padahal hasil UN terkadang tidak menggambarkan kemampuan siswa yang sebenarnya.

3. AKM dan SK digunakan untuk mengukur seluruh mata pelajaran sedangkan UN hanya untuk beberapa mata pelajaran.

Selama ini Ujian Nasional untuk tingkat SLTA hanya terdiri dari 4 Mata Pelajaran, yaitu Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan satu Mata Pelajaran Pilihan dari IPA maupun IPS. Sedangkan untuk menentukan kelulusan, siswa harus lulus seluruh mata pelajaran yang diajarkan. Dengan begitu hasil UN tidak akan dapat menggambarkan kemampuan siswa secara keseluruhan karena hanya diwakili 4 mata pelajaran. Dan apabila hasil UN tinggi sementara hasil ujian mapel lain rendah maka timbul masalah antara meluluskan atau tidak meluluskan siswa yang bersangkutan. Dan biasanya diluluskan juga.

Sementara AKM dan SK akan diujikan untuk seluruh mata pelajaran. Dengan begitu AKM dan SK akan lebih mendekati untuk menggambarkan kemampuan siswa secara holistik baik kemampuan kognitif siswa maupun kemampuan afektif siswa.

4. AKM digunakan untuk mengukur kemampuan Kognitif dan Karakter siswa beserta lingkungan sekolah tempat belajarnya sementara UN hanya untuk mengukur kemampuan kognitif saja

Keunggulan lain lain antara UN denga AKM dan SK adalah dalam hal pengukuran kemampuan siswa. Hasil Ujian Nasional saat ini hanya digunakan untuk mengukur kemampuan kognitif siswa saja. Sementara kemampuan afektif dan psikomotoriknya tidak pernah terukur.

AKM dan SK digunakan untuk mengukur kemampuan kognitif siswa dan sekaligus Afektif (karakter siswa dan lingkungan sekolah sebagai tempat belajarnya. Dengan begitu sekolah dan juga seluruh stake holder pendidikan dapat melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas pendidikan maupun pendidikan karakter yang berbasis pada kearifan lokal.

5. UN cenderung menciptakan dikotomi mata pelajaran sementara AKM dan SK akan menyatukan  seluruh mata pelajaran yang diajarkan di sekolah sehingga tidak ada kesan mata pelajaran istimewa maupun tidak istimewa. Semua mapel sama-sama penting bagi masa depan para siswa.

Sadar atau tidak sebenarnya dikotomi mata pelajaran selama ini memang terjadi sehingga menimbulkan kecemburuan antar guru mata pelajaran yang di UN kan dengan yang tidak di UN kan. Begitu juga dengan siswa. Para siswa akan lebih memprioritaskan belajar mapel yang di UN kan ketimbang yang tidak di UN kan. Terutama pada saat mereka berada pada jenjang akhir sekolah yaitu kelas 6 SD, kelas 9 SLTP dan kelas 12 SLTA.

Guru mata pelajaran yang di UN kan selama ini selalu khawatir apabila hasil UN para siswa rendah sehingga akan meninggalkan kesan yang tidak baik bagi guru yang mengajar. Begitu juga dengan siswa. Para siswa selalu memberi porsi belajar yang lebih bagi mata pelajaran yang di UN kan. Sementara pelajaran selain UN dianggap biasa dan tidak memberikan motivasi lebih untuk belajar lebih giat lagi.

Kecemburuan antar guru pun terkadang muncul di saat guru-guru yang mengajar mata pelajaran yang di UN kan mendapat honor tambahan karena melakukan pelajaran tambahan (terobosan) sementara guru mata pelajaran yang tidak di UN kan tidak dapat sama sekali. Belum lagi sikap siswa yang terkadang senang dan bersemangat apabila belajar mata pelajaran yang di UN kan daripada pelajaran yang tidak di UN kan. Semuanya benar-benar menjadi beban baik untuk guru maupun untuk siswa.

Berdasarkan paparan diatas maka dapat disimpulkan bahwa memang Asesmen Kompetensi Minimal (AKM) dan Survey Karakter (SK) adalah jalan terbaik untuk memperbaiki kualitas proses dan hasil pendidikan di Indonesia.

Sumber : laman24.com

Demikian yang dapat kami bagikan, semoga bermanfaat. Jangan lupa dishare...