Curhat Pilu Siswa SD di Indonesia, Tak Punya Handphone sampai Rindu Sekolah

Curhat Pilu Siswa SD di Indonesia, Tak Punya Handphone sampai Rindu Sekolah

Minggu, 31 Mei 2020

Nanang Nuryanto saat mendampingi siswanya belajar di rumah Desan Santan Ulu, Kecamatan Marang Kayu, Kabupaten Kutai Kertanegara, Kaltim, Selasa (5/5/2020).

Merdekabelajar.my.id_Handphone, laptop, dan internet adalah sebuah kemewahan yang tak Rivaldi miliki seperti anak-anak di kota besar. 

Agar bisa belajar secara jarak jauh, Rivaldi harus hidup terpisah dari keluarganya. 

Itulah kisah curahan hati (curhat) Rivaldi R. Yampata, siswa kelas IV SD 016 Tanjung Redeb, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur yang tinggal bersama kerabatnya selama belajar di tengah masa Covid-19. 

Kisah Rivaldi adalah hasil seleksi dari 6.689 surat yang dikirimkan oleh siswa SD dan guru se-Indonesia pada 11-17 Mei 2020 lalu dan kemudian dibacakan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim. 

“Tahun ini saya dititipkan Mama dengan seorang guru yang sudah lama dikenal. Alhamdulillah selama saya di sini semua tugas yang diberikan guru, bisa saya selesaikan dengan baik karena dibimbing dengan kakak-kakak di rumah saya, Kak Abi dan Kak Tiara," tulis Rivaldi seperti dikutip dari laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 

Rivaldi tak punya handpohone. Kakak-kakaknya di tempat tinggalnya membantu tugas melafalkan tugas bacaan salat dan kosakata bahasa Inggris beserta artinya lewat video. 

Rivaldi yang bercita-cita ingin menjadi polisi itu juga menceritakan kesehariannya beternak lele menggunakan media drum dan berkebun selama ia tinggal di keluarga barunya. 

Nadiem sangat terkesan karena Rivaldi dan keluarganya tetap produktif melakukan kegiatan di rumah. 

“Meskipun dalam krisis bagus bisa berkreasi menjadi wirausaha,” kata Nadiem. 

Kisah kedua datang Alfiatus Sholehah, siswa kelas VB SDN Pademawu Barat 1, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur.

Seperti halnya Rivaldi, Alfiatus menyampaikan keinginannya untuk segera bisa kembali ke sekolah, bertemu dengan teman-teman dan guru-gurunya. 

“Bapak Menteri saya dilahirkan dari keluarga yang kurang mampu. Orang tua saya hanya buruh tani. Dengan adanya corona saya jadi bingung karena belajarnya harus pakai HP Android. Sedangkan saya tidak punya," cerita Alfiatus. 

Alfiatus prihatin dengan ibunya lantaran harus mencari pinjaman uang untuk membeli paket internet. Ibunya berhutang agar Alfiatus bisa belajar di rumah. 

"Tapi saya ingin segera masuk sekolah ingin ketemu guru dan teman-teman saya. Apalagi sekarang bulan Ramadan. Biasanya di sekolah diadakan kegiatan Pondok Ramadan. Tapi karena Corona semua itu tidak ada lagi,” tulis Alfiatus dalam suratnya kepada Nadiem. 

Nadiem mengatakan bahwa kini dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) bisa digunakan untuk membantu siswa membeli paket internet. 

“Ingatkan sekolahnya ya,” kata Nadiem. 

Nadiem dalam pertemuan bersama para murid pengirim surat lewat Zoom, bertanya kepada Alfiatus tentang hal penting apa yang bisa diambil sebagai pelajaran atas wabah Covid-19. 

Dengan lantang Alfiatus mengatakan, kesehatan. 

“Kita harus menjaga kesehatan, Kesehatan sangat penting untuk kita semua,” ucap Alfiatus.  

Cerita lain datang dari Jayapura, Papua. Atrice G. Napitupulu, siswa kelas IV SD YPPK Gembala Baik, Jayapura membacakan sendiri surat yang ditujukan untuk Nadiem.

Atrice mencurahkan kesedihannya karena teman-temannya yang muslim tidak bisa mudik dan berkumpul bersama sanak keluarga sebagaimana biasanya akibat dari Covid-19. 

“Saya juga merasa kasihan sama teman-temanku di komplek yang sedang berpuasa mereka tidak bisa mudik melihat kakek nenek dan keluarganya tidak bisa salat bersama-sama di mesjid Itu semua karena virus Corona," ujar Atrice. 

Saat Lebaran, Atrice juga tak bisa berpegangan tangan, makan bakso, es buah dan mendapatkan uang Lebaran. 

"Saya berharap virus Corona cepat berlalu ya, Pak, supaya kita semua bisa bersukacita dan bergembira. Salam hormat,” tutur Atrice. 

Tetap semangat dan optimistis 

Kepada mereka, Nadiem mengucapkan terima kasih telah menulis surat dan berharap untuk tetap semangat. 

“Terima kasih untuk masih semangat di saat krisis seperti ini. Saya tahu belajar dari rumah itu nggak mudah, sulit. Kadang-kadang membosankan, kadang-kadang merepotkan. Tapi tolong tetap semangat, tetap bantu orangtua, tetap bantu kakak-adik," kata Nadiem. 

Nadiem optimistis bahwa Indonesia bisa melalui krisis Covid-19 bersama asal masyarakat Indonesia saling mencintai, asal kita saling membantu. 

"Kita kan bisa melalui krisis ini,” ujar Nadiem. 

Nadiem juga menyampaikan, bahwa di tengah pandemi ini, berbagai keterbatasan tidak menjadi alasan. 

Dari pandemi, pelajaran penting yang dipetik adalah sesama manusia saling membutuhkan. Nadiem mengatakan semua kesulitan ini pasti akan berakhir dan menjadi hal manis untuk dikenang. 

Semua orang akan bersemangat untuk beraktivitas kembali. Ruang kelas akan dipenuhi energi dari para pencari ilmu generasi penerus bangsa. 

“Dan saat itu kita akan tahu bahwa kebersamaan kita akan lebih kuat dari sebelumnya, karena kita bertoleransi, karena kita bergotong-royong,” kata Nadiem.  

Sumber : kompas.com

Demikian berita terkini yang dapat kami bagikan, semoga bermanfaat.