Terlalu Lama Libur, Psikologi Anak : Siswa Bisa Terganggu

Terlalu Lama Libur, Psikologi Anak : Siswa Bisa Terganggu

Minggu, 10 Mei 2020

Sukma Noor Akbar MPsi Psikolog - Banjarmasin Post

Merdekabelajar.my.id_Komplek pelajar Mulawarman Banjarmasin terlihat lengang kemarin. Tak ada siswa sekolah yang berseliweran seperti biasa. Jauh berbeda sebelum pandemi Covid-19 mewabah di Banjarmasin.

Di sini, belasan sekolah dari tingkat SD hingga SMA ada. Pandemi membuat suasana komplek pelajar ini tak seriuh dulu. “Sangat terasa sepinya komplek ini. Dulu saya dalam dua jam, bisa sampai tiga orderan dapat,” ujar Khalikin.

Dia adalah ojek daring yang kerap mangkal di sana. Pandemi sekarang, pendapatan dari membawa siswa sekolah tak ada lagi. “Mau bagaimana lagi, terima saja keadaan sekarang,” keluhnya. 

Dinas Pendidikan (Disdik) Kalsel sendiri memperpanjang proses belajar mengajar di rumah. Prosesnya secara daring hingga 29 Mei mendatang. “PSBB Banjarmasin sampai 21 Mei, jadi siswa dan tenaga pendidik tetap melakukan proses belajar di rumah. Tak terganggu,” ujar Kadisdik Kalsel, Yusuf Effendi kemarin. 

Menurutnya, proses belajar mengajar di rumah ini sesuai surat edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI nomor 4 tahun 2020 tentang pelaksanaan kebijakan pendidikan dalam masa darurat penyebaran corona. “Status sekarang juga tanggap darurat, kami (Disdik) harus memperhatikan itu,” katanya.

Dia memastikan, hingga 29 Mei mendatang, tak ada aktivitas siswa di sekolah. Baik pembelajaran maupun kegiatan ekstrakulikuler. “Tak ada sekolah SMA maupun SMK yang di bawah kewenangan Pemprov Kalsel melaksanakan proses kegitan belajar mengajar,” sebutnya.

Proses pembelajaran daring melalui rumah ini, bagi sebagian siswa membosankan. Meski ada pula yang senang karena tak masuk sekolah dengan rutinitasnya yang seabrek. Nah bagi siswa yang senang ke sekolah, tentu membuat mereka tak terbiasa. Ada yang mengaku kangen teman, guru hingga petugas kebersihan.

Hal ini diakui Hakim, siswa SMAN 2 Banjarmasin. Menurutnya, meski sekarang ada handphone yang masih bisa berinteraksi. Namun, tetap saja berbeda. “Dikatakan senang ngak sekolah, memang benar. Tapi lebih sedih tak bisa kumpul-kumpul dengan teman,” ujarnya kemarin.

Banyak hal akunya yang hilang setelah proses belajar digantikan hanya di rumah. Dia mencotohkan seperti tak bisa lagi berolahraga bersama hingga bercanda setelah jam pulang sekolah. “Belum lagi ketika kerja kelompok yang biasanya ramai dan penuh keceriaan,” keluhnya.

Hal senada, dituturkan Azhar. Siswa kelas 6 di salah satu SD Negeri di kawasan Pasar Lama Banjarmasin itu mengaku sedih tak bisa berkumpul dengan teman sekelasnya lagi hingga masuk SMP selanjutnya.

Meski dia senang tak ada ujian nasional tahun ini, namun tak bertemu lagi dengan teman satu sekolah hingga kelulusan membuatnya sangat sedih. “Belum tentu ketika SMP satu sekolah lagi,” tuturnya.

Psikolog Klinis Fakultas Kedokteran ULM, Sukma Noor Akbar mengatakan, penerapan pembelajaran jarak jauh dari rumah masing-masing sudah berjalan sekitar 8 Minggu. Secara psikologis anak akan terganggu jika mereka tak siap. Apalagi adanya tugas yang terlalu banyak, program pembelajaran yang kurang jelas, tentu siswa merasa bosan, terlebih mereka kangen dengan suasana sekolah. “Ketika ini terjadi, pada akhirnya dapat mengganggu proses belajar siswa,” ujar Sukma kemarin.

Agar tak terjadi hal demikian, menurutnya orangtua menjadi faktor yang sangat penting dalam menunjang pembelajaran siswa di rumah. Seperti memberi contoh sikap respek dan menghargai apa yang diupayakan orang lain dalam menghadapi situasi krisis seperti melakukan physical distancing, cuci tangan, tidak keluar rumah apabila tidak penting, menggunakan masker dan lain sebagainya.

“Netralkan keluhan dan mengajak anak mengolah kebosanan dengan melakukan aktivitas menarik secara kreatif dan mengelola rasa cemas dengan mencari makna positif dari situasi yang dialami,” katanya.

Pengamat pendidikan FKIP ULM Reza Fahlevi menyebut, pembelajaran daring seolah menjadi solusi yang paling pas untuk sementara dalam rangka melangsung proses pembelajaran, baik di sekolah maupun di kampus. Namun di satu sisi, banyak juga hal-hal yang tidak bisa dijangkau oleh siswa. 

Dia mengatakan, salah satunya terkait dengan masalah gaya belajar. Tipe belajar siswa itu menurutnya berbeda, ada yang tipe visual, audio dan kinestetik. Biasanya di dalam proses pembelajaran agar siswa paham subtansi (tujuan) pembelajaran, dilakukan melalui interaksi langsung antara guru dan siswa, atau antara siswa dengan siswa lain.

Di tengah pandemi sekarang, mau tak mau siswa harus beradaptasi. Namun, tetap saja siswa akan lebih menikmati proses belajar di sekolah. “Tujuan siswa ke sekolah itu sebagian kecilnya tidak melulu untuk belajar, tapi ada motif yang lain, misalnya ingin bertemu teman secara langsung, bersosialisasi,” ujarnya. (mof/ran/ema)

Sumber : prokal.co

Demikian berita terkini yang dapat kami bagikan, semoga bermanfaat.