Kesedihan Ibu Lihat Anaknya Stres karena Gagal Masuk SMA, Tertawa Sendiri hingga Tak Mau Makan

Kesedihan Ibu Lihat Anaknya Stres karena Gagal Masuk SMA, Tertawa Sendiri hingga Tak Mau Makan

Senin, 06 Juli 2020

Kesedihan Ibu Lihat Anaknya Stres karena Gagal Masuk SMA, Tertawa ...

Merdekabelajar.my.id_Seorang ibu meluapkan curhatan pilu terkait kondisi anaknya yang stress.

Stres yang dialami sang anak diduga karena gagal masuk SMA yang diinginkannya.

Diberlakukannya sistem PPDB online yang baru menuai banyak kritik.

Bahkan sejumlah orangtua murid juga merasakan adanya kejanggalan dari sistem zonasi.

Aturan-aturan baru ini pun dirasa memberatkan sejumlah pelajar dan orangtua mereka.

Orangtua murid yang ikut dipusingkan denan adanya aturan baru ini pun meluapkan kegelisahan mereka.

Belasan wali murid yang tergabung dalam persatuan orangtua peduli pendidikan anak pun mendatangi kantor DPRD Jember.

Mereka mendatangi kantor DPRD Jember pada Kamis (2/7/2020).

Bukan tanpa alasan mereka datang ke kantor DPRD Jember.

Ternyata para wali murid ini ingin menyampaikan keresahan terkait PPDB sistem zonasi.

Seperti diketahui dalam Permendikbud No 44 Tahun 2019 Bagian Kedua Jalur Pendaftaran PPDB Paragraf 1 Umum Pasal 11, pendaftaran PPDB dilaksanakan melalui jalur sebagai berikut, yaitu zonasi, afirmasi, perpindahan tugas orang tua/wali, dan atau prestasi.

Tak sedikit orangtua yang harus pontang-panting berjuang mencari sekolah yang mau menerima anak mereka.

 Berbagai curahan hati para siswa maupun orangtua pun mulai beredar dan viral di media sosial.

Dikabarkan seorang siswa terus menerus menangis hingga tak mau makan lantaran belum mendapatkan sekolahan.

Para wali murid menemukan banyak kejanggalan dari sistem zonasi, yakni dugaan pemalsuan Surat Keterangan Domisili (SKD).

Wali murid menyebut ada anak yang rumahnya dekat dengan sekolah, tetapi gagal masuk.

Sedangkan anak yang jaraknya jauh dari sekolah, malah lolos karena menggunakan SKD palsu.

“Kalau tidak ada kecurangan mungkin saya terima,” kata Dwi Riska, salah satu wali murid dalam rapat dengar pendapat dengan komisi D DPRD Jember.

Dia mencontohkan, anak yang berasal dari Kecamatan Wuluhan dan Jenggawah, bisa masuk di SMAN 1 dan SMAN 2.

Padahal jarak sekolah dengan Kecamatan Wuluhan sekitar 36 kilometer.

Sementara, anak Dwi tidak lolos di SMAN 2, padahal jaraknya sekitar 1,6 kilometer.

Anak Dwi malah lolos di SMAN 5 yang jaraknya lebih jauh.

“Sampai anak saya stres, sampai sekarang tidak mau masuk SMAN 5. Saya dibikin pusing, kadang (sang anak) tertawa sendiri, tidak mau makan.

Bagaimana seorang ibu melihat anaknya seperti itu,” jelas Dwi lalu menangis.

PPDB SMA/SMK Jateng (Instagram/pdkjateng) (Instagram/pdkjateng)

Kejadian itu tak hanya dialami oleh DW, tetapi juga beberapa wali murid lainnya.

“Akibatnya muncul anak saling bully, orangtua saling sindir,” tambah David K Susilo, salah satu wali murid lainnya.

Dia menduga praktik pemalsuan SKD sudah terjadi dan menciderai dunia pendidikan.

Anak sudah diajarkan sikap tidak jujur untuk masuk ke sekolah.

Padahal, kejujuran merupakan hukum tertinggi dalam dunia pendidikan.

Untuk itu, para wali murid itu mendesak agar DPRD Jember membongkar praktik SKD palsu tersebut, dengan melakukan verifikasi ulang, apakah anak yang lolos itu benar-benar tinggal dekat dengan sekolah. 

Mereka meminta DPRD turun langsung ke SMA yang diduga memanipulasi SKD Palsu.

Bila ditemukan, mereka yang sudah lolos masuk di SMAN tersebut harus dibatalkan.

Ketua Komisi D DPRD Jember Hafidi mengatakan, pihaknya akan menindaklanjuti aduan wali murid tersebut.

Komisi D akan menggelar rapat gabungan karena ruang lingkupnya tidak hanya pendidikan, tetapi juga urusan data kependudukan.

“Untuk membongkar perlu rapat gabungan karena surat domisili urusan Dispenduk,” jelas dia. (TribunNewsmaker.com/*)