Para Guru Emosi karena Disebut Terima Gaji Buta Selama Pandemi Covid-19

Para Guru Emosi karena Disebut Terima Gaji Buta Selama Pandemi Covid-19

Kamis, 30 Juli 2020

Para Guru Emosi karena Disebut Terima Gaji Buta Selama Pandemi Covid-19

Merdekabelajar.my.id_Jagat media sosial di Garut baru saja diramaikan dengan status Facebook seorang netizen yang dianggap menghina profesi guru karena tidak melakukan proses belajar mengajar tatap muka saat masa pandemi.

Akun Facebook Dede Iskandar menulis sebuah narasi dengan nada protes terkait gaji guru yang tetap dibayarkan meski sekolah diliburkan.

Dalam statusnya tersebut, ia meminta pemerintah tidak menggaji guru agar ikut merasakan susahnya ekonomi di masa pandemi Covid-19.

" Nagara ngagajih buta ieu mah hayoh we sakola di liburkeun, kudunamah guru nage ulah di gajih meh karasaeun sarua kalaparan (Negara memberikan gaji buta, terus saja sekolah diliburkan, harusnya guru juga jangan digaji agar ikut merasakan kelaparan)," tulis Dede di akun media sosialnya.

Akun Facebook

Akun Dede Iskandar kini sudah tak bisa ditemukan. Namun tangkapan layar status Dede Iskandar sudah menyebar di kalangan guru sejak pekan lalu.

Asep Sopian, salah seorang guru SMP di Garut, mengaku sangat terhina dan tidak terima dengan unggahan akun Dede Iskandar. Menurutnya, unggahan Dede di Facebook tidak memiliki dasar sama sekali.

" Kami ini masih memberi pelajaran secara daring ke anak-anak. Kata siapa gaji buta. Dia tidak merasakan sulitnya bikin materi untuk mengajar daring," kata Asep, Selasa 28 Juli 2020

Para guru, tambah Asep, semakin sakit hati dengan komentar Dede Iskandar di kolom komentar unggahan itu, yang menyebut lebih baik menjadi penjahat dibanding sekolah.

Atas unggahan tersebut, Asep meminta Dede meminta maaf secara terbuka, karena melukai seluruh guru di Indonesia.

" Kalau dia minta maaf pasti kami sampaikan. Tapi permintaan maaf tak akan menghentikan proses hukum. Kami akan tetap melaporkan soal unggahannya itu sebagai efek jera," tegasnya.

Datang dan Meminta Maaf

Dede Iskandar datang ke Gedung PGRI Garut untuk memeberikan klarifikasi pada Selasa 28 Juli 2020. Ratusan guru sudah berkumpul menyambut kedatangannya. Guru yang datang tidak hanya dari Garut saja, ada juga yang datang dari Bandung, Tasikmalaya, bahkan Ciamis.

Ketua PGRI Garut, Mahdar Suhendar, mengatakan, berkumpulnya para guru di Gedung PGRI karena mereka merasa terhina dengan unggahan Dede Iskandar.

Pengurus PGRI, kata dia, awalnya akan memediasi antara Dede Iskandar dengan perwakilan guru, namun karena jumlah guru yang hadir sangat banyak, proses mediasi di Gedung PGRI Garut tidak bisa dilaksanakan.

" Guru juga tetap manusia. Kami juga harus jaga keamanan dia (Dede Iskandar). Dia sudah minta maaf tapi tetap para guru mau diproses hukum," kata Mahdar.

Dia menyebut bahwa pada Sabtu 25 Juli, kakak Dede Iskandar telah datang kepadanya untuk meminta maaf. Kakak Dede Iskandar merupakan guru honorer.

" Kakaknya juga tidak terima dengan unggahan adiknya. Soalnya dia juga sama, guru," terangnya.

Berujung Ricuh

Dalam proses klarifikasi, pihak kepolisian setempat telah bersiap di sekitar Gedung PGRI Garut. Saat Dede selesai memberikan klarifikasi, karena ada ratusan guru yang berkumpul, pihak kepolisian membawa Dede melalui bagian belakang gedung.

Saat Dede digiring petugas, massa sudah memenuhi bagian depan Gedung PGRI. Saat proses tersebut, amarah massa tidak terhankan dan sempat terjadi kericuhan.

Beberapa diantara massa mencoba memukul Dede. Pukulan mereka pun bahkan sempat mengenai sejumlah petugas kepolisian saat Dede tengah digiring petugas.

Saat Dede digiring petugas, ratusan massa sudah memenuhi bagian depan Gedung PGRI. Saat proses tersebut, amarah massa tidak terhankan dan sempat terjadi kericuhan. Beberapa diantara massa mencoba memukulnya Dede. Pukulan mereka pun bahkan sempat mengenai sejumlah petugas kepolisian saat Dede tengah digiring petugas.

Petugas yang melakukan penjagaan, jumlahnya lebih sedikt dibanding jumlah guru yang berkumpul. Sehingga petugas kesulitan menahan massa, namun akhirnya Dede bisa masuk kedalam mobil.

Meski Dede sudah ada di dalam mobil, massa masih mencoba untuk mengeluarkan emosinya dan mengelililingi mobil yang akan membawanya ke Mapolres Garut.