Cara Mengecek Apakah Nama Anda Masuk Daftar Penerima Bantuan Rp 600.000 di BPJS Ketenagakerjaan

Cara Mengecek Apakah Nama Anda Masuk Daftar Penerima Bantuan Rp 600.000 di BPJS Ketenagakerjaan

Minggu, 16 Agustus 2020

tribunnews

Merdekabelajar.my.id - Para pegawai swasta, terutama yang bergaji di bawah Rp 5 juta per bulan kini mulai deg-degan apakah namanya terdaftar sebagai penerima subsidi Rp 600.000 atau tidak 


Ya, Pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan akan memberikan subsidi sebesar Rp 600.000 kepada karyawan swasta mulai September 2020.


Bantuan tersebut akan diberikan kepada para pegawai swasta dengan penghasilan di bawah Rp 5 juta per bulan dan terdaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan (BP Jamsostek).


Mereka akan memperoleh bantuan sebesar Rp 600.000 per bulan selama 4 bulan. 


Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut bahwa pemerintah akan menggelontorkan anggaran Rp 31,2 triliun untuk merealisasikan program ini.


Lalu bagaimana cara mengecek nama-nama yang terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan sebagai penerima subsidi gaji ini?


Mengecek nama penerima subsidi gaji 


Untuk mengecek terdaftar tidaknya sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan, ada tiga cara yang dapat dilakukan, yaitu:


1. Aplikasi BPJSTKU


Anda dapat mengunduh aplikasi BPJSTKU untuk mengecek status kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan.  


Aplikasi ini tersedia untuk perangkat Android maupun iOS. Melalui aplikasi BPJSTKU, terdapat informasi saldo JHT dan rincian saldo JHT Tahunan.


Selain itu, tersedia juga informasi profil peserta, simulasi saldo JHT dan formulir pengajuan klaim online.


Adapun cara pendaftaran dibedakan menjadi dua, yaitu pendaftaran peserta baru BPJS Ketenagakerjaan (Penerima Upah, Bukan Penerima Upah, Pekerja Migran Indonesia) dan pendaftaran pengguna baru aplikasi BPJSTKU.


Jika Anda sudah pernah mendaftar, masukkan alamat email dan kata sandi. Sementara, bagi pendaftar baru, harus membuat akun terlebih dahulu.


Berikut adalah caranya:

  • Masukkan alamat email dan kata sandi
  • Memilih kategori (penerima upah, bukan penerima upah, atau pekerja migran Indonesia)
  • Memasukkan nama lengkap sesuai data di KTP
  • Memasukkan tanggal lahir dan nomor identitas
  • Memasukkan nomor KJP atau nomor kepesertaan di kartu BPJS Ketenagakerjaan
  • Memasukkan nomor ponsel aktif untuk aktivasi
  • Memasukkan kode verifikasi yang dikirim melalui SMS


Setelah berhasil login, Anda dapat melihat status keanggotaan, apakah terdaftar sebagai peserta aktif di BPJS Ketenagakerjaan. 


Jika aktif dan sesuai dengan kriteria lain yang dipersyaratkan, Anda merupakan salah satu penerima subsidi gaji tersebut.


2. Situs BPJS Ketenagakerjaan


Selain melalui aplikasi, Anda juga dapat mengecek status kepesertaan di BPJS Ketenagakerjaan melalui situs https://sso.bpjsketenagakerjaan.go.id/ 


Pada laman tersebut, masukkan alamat email dan password.


Setelah berhasil masuk, Anda dapat melihat sejumlah informasi, mulai dari kartu digital, saldo JHT, klaim saldo JHT, simulasi, hingga vokasi.


3. SMS 


Untuk dapat mengecek status kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan melalui SMS, peserta harus mendaftar via SMS dengan mengetik:


Daftar(spasi)SALDO#NO_KTP#TGL_LAHIR(DD-MM-YYYY)#NO_PESERTA#EMAIL(bila ada) Kirim ke 2757.


Setelah terdaftar, peserta bisa mengirim pesan dengan format SALDO (spasi) no peserta, lalu kirim ke 2757.


Proses pengumpulan data


Bantuan sebesar Rp 600.000 ini nantinya akan ditransfer langsung ke nomor rekening dari masing-masing pekerja.


Melansir Kompas TV, Jumat (14/8/2020), saat ini, BP Jamsostek tengah mengumpulkan nomor rekening peserta yang memenuhi kriteria sebagai penerima bantuan dari pemerintah.


Perusahaan juga diminta aktif membantu menginformasikan nomor rekening para pekerja yang telah memenuhi kriteria.


Keaktifan perusahaan dibutuhkan untuk mempercepat proses pengumpulan informasi sekaligus pembaruan data peserta. 


Apa Beda Jaminan Hari Tua dan Jaminan Pensiun


Jika Anda terdaftar sebagai peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan atau kini yang dipanggil menjadi BPJAMSOSTEK, maka sebagian dari gaji Anda akan terpotong untuk membayarkan dua jenis iuran.


Dua jenis iuran itu adalah Iuran Jaminan Hari Tua (JHT) dan Iuran Jaminan Pensiunan (JP).


Hari tua dan masa pensiun, bukan kah keduanya terjadi di satu masa yang sama. Lalu apa perbedaan mendasar di antara keduanya?


Mengacu pada UU No 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional maka diketahui definisi dari JHT dan JP yang sekaligus dapat membedakannya.


1. Jaminan Hari Tua (JHT)


JHT adalah program nasional yang dijalankan berdasarkan prinsip asuransi sosial atau tabungan wajib.


Tujuannya adalah menjamin setiap peserta menerima sejumlah uang tunai secara sekaligus apabila memasuki masa pensiun di kemudian hari.


Atau, jika si peserta mengalami cacat total tetap atau meninggal dunia yang disebabkan baik oleh sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaannya ataupun bukan.


Jika peserta meninggal dunia, maka pihak yang berhak menerima manfaat JHT adalah mereka yang secara sah terdaftar sebagai ahli waris.


Besar kecilnya manfaat yang akan diterima peserta ditentukan berdasarkan jumlah akumulasi seluruh iuran yang telah disetorkan ditambah dengan hasil pengembangannya.


Tidak harus menunggu pensiun atau momen tertentu, pembayaran manfaat JHT dapat diberikan sebagian sampai batas tertentu setelah kepesertaan mencapai minimal 10 tahun.


JHT bisa juga diberikan saat peserta berhenti bekerja dan tidak melanjutkannya kembali, berusia 56 tahun.


Mereka yang disebut sebagai peserta di sini adalah yang secara rutin membayarkan iuran sesuai dengan besarnya upah atau pendapatan yang mereka laporkan sebagai basis perhitungan iuran.


Besarnya Iuran JHT adalah 5,7 persen dari besarnya upah yang dilaporkan dengan perincian 3,7 persen ditanggung oleh pemberi kerja dan sisanya ditanggung oleh pekerja.


Sementara bagi mereka yang tidak menerima upah atau bukan pekerja akan didasarkan pada jumlah nominal yang ditetapkan secarara berkala.


Jaminan Pensiun (JP)


Sama halnya dengan Iuran JHT, Iuran JP juga diselenggarakan secara nasional berdasarkan prinsip asuransi sosial atau tabungan wajib.


Tidak jauh berbeda, JP ditujukan untuk mempertahankan derajat kehidupan layak bagi peserta saat sudah tak lagi bekerja atau berkurang penghasilannya karena memasuki usia pensiun atau mengalami cacat total.


Manfaat JP akan dirasakan oleh semua peserta yang membayar iuran sebagaimana ditetapkan.


Iuran JP adalah sebesar 3 persen dari upah yang diterima, dengan rincian pembayaran 2 persen oleh pihak pemberi kerja dan 1 persen sisanya oleh pekerja.


Manfaat dari iuran ini akan diterima oleh peserta maupun keluarga ataupun ahli warisnya setiap bulannya hingga jangka waktu tertentu.


Pensiun yang disebabkan karena sudah memasuki masanya akan diterima hingga meninggal dunia. Begitu juga dengan pensiun akibat cacat akibat kecelakaan atau penyakit, akan terus diterima setiap bulannya hingga meninggal dunia.


Selanjutnya, untuk pensiun janda/duda maka akan diberikan hingga janda/duda ahli waris meninggal dunia atau menikah kembali.


Pensiun anak akan terus diterima hingga anak yang berstatus ahli waris mencapai usia 23 tahun, bekerja, atau menikah.


Jika peserta Iuran JP merupakan lajang, maka pensiun akan diberikan pada orangtua hingga batas waktu yang diterapkan undang-undang.


Jaminan pensiun yang diberikan ini dapat diterima oleh peserta ataupun ahli warisnya apabila si peserta sudah memenuhi masa iuran yakni minimal 15 tahun, kecuali ditetapkan lain oleh undang-undang.


Apabila peserta mencapai usia pensiun sebelum 15 tahun, peserta tersebut berhak mendapatkan seluruh akumulasi iurannya ditambah hasil pengembangannya.


Dengan penjelasan yang ada, dapat disimpulkan perbedaan mendasar dari Iuran JHT dan Iuran JP adalah proses pembayarannya, JHT dibayarkan secara sekaligus, sementara JP dibayarkan berkala setiap bulannya.

Sumber : tribunnews