Mendikbud Nadiem Makarim Akan Izinkan Belajar Tatap Muka di Zona Kuning? Pengumumannya Hari Ini

Mendikbud Nadiem Makarim Akan Izinkan Belajar Tatap Muka di Zona Kuning? Pengumumannya Hari Ini

Kamis, 06 Agustus 2020

tribunnews

Merdekabelajar.my.id_Hari ini, Jumat (7/8/2020), Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim dan sejumlah menteri lainnya akan mengumumkan soal proses belajar mengajar bagi siswa sekolah selama masa pandemi.

Kabarnya, siswa sekolah yang selama ini belajar dari rumah (school from home/SFH), terutama yang berada di zona kuning, akan kembali ke sekolah untuk belajar dengan metode tatap muka.

Pemerintah terutama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ingin tidak hanya wilayah zona hijau atau wilayah yang tidak terjadi kasus virus corona saja yang boleh melakukan belajar mengajar dengan cara tatap muka.

Rencananya wilayah dengan zona risiko rendah atau sering disebut zona kuning akan diperbolehkan untuk melakukan proses belajar mengajar dengan cara tatap muka secara terbatas.

Sementara untuk zona wilayah dengan risiko tepapar sedang atau sering digambarkan dengan zona oranye, dan zona risiko terpapar virus corona tinggi atau zona merah tetap tidak akan diperbolehkan untuk melakukan kegiatan belajar mengajar di sekolah secara tatap muka.

Kebijakan pemerintah ini setelah pemerintah mendapatkan masukan dari berbagai pihak mengenai positif dan negatifnya bagi sekolah untuk melakukan pembelajaran secara tatap muka di sekolah.

Rencananya pengumuman penyesuaian kebijakan pembelajaran di masa pandemi Covid-19 ini akan dihadiri oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muadjir Effendy, Kepala Badan Nasional Penanggulanan Bencana Doni Monardo, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim, Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, dan Menteri Agama Fachrul Razi.

Jika tidak ada aral melintang, pengumuman penyesuaian kebijakan pembelajaran di masa pandemi Covid-19 ini akan berlangsung pada Jumat 7 Agustus 2020 petang.

Pengumuman penyesuaian kebijakan pembelajaran di masa pandemi Covid-19 ini rencananya juga akan disiarkan langsung melalui akun resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di kanal Youtube.

Namun menyimak pernyataan Doni Monardo (27/8) bahwa tidak lama lagi pemerintah akan membuat kebijakan dengan membolehkan belajar tatap muka di zona non hijau khususnya zona kuning atau dengan risiko rendah.

"Menteri Pendidikan (Nadiem Anwar Makarim) telah melakukan langkah-langkah. Tidak lama lagi akan diumumkan daerah daerah yang selain zona hijau akan diberikan kesempatan bagi zona non hijau untuk melakukan belajar mengajar dengan tatap muka cara terbatas," kata Doni Monardo.

Pada kesempatan itu Doni juga menyampaikan apresiasi kepada beberapa daerah berinisiatif menggunakan radio panggil sebagai sarana pembelajaran para guru.

Hal ini dilakukan lantaran di lokasi tersebut masih kesulitan untuk mengakses internet. "Karena tidak ada rotan akar pun jadi," kata Doni Monardo.

Sementara dalam kesempatan terpisah Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dalam siaran langsung di akun Instagramnya Rabu 5 Agustus 2020 juga menegaskan sekolah yang ingin membuka kegiatan belajar mengajar harus bisa memastikan para guru murid dan semua yang terlibat belajar mengajar secara tatap muka telah menjalankan protokol kesehatan dengan ketat dengan disiplin.

Selain itu, orangtua siswa juga harus memastikan anak-anak yang melakukan kegiatan belajar mengajar tatap muka di sekolah berangkat dengan aman dari rumah menuju sekolah, begitu juga sebaliknya saat pulang dari sekolah menuju ke rumah.

Sebab jika anak menggunakan angkutan umum maka tingkat risiko terpapar juga meningkat.

Simulasi tatap muka

Sebelumnya, pada Senin (3/8/2020) lalu, SMPN 2 Kota Bekasi melakukan simulasi belajar tatap muka di sekolah. Jumlahnya dibatasi hanya 18 siswa per kelas.

SMPN 2 Kota Bekasi menjadi role model di Kota Bekasi  untuk proses kegiatan belajar mengajar di kelas saat pandemi virus corona atau Covid-19.

Kepala SMPN 2 Kota Bekasi, Samsu mengatakan bahwa ada delapan langkah standar operasional prosedur (SOP) dalam proses simulasi belajar tatap muka.

Siswa yang datang ke sekolah wajib mencuci tangan, lalu dicek suhu tubuh dengan thermogun.

Kemudian, saat siswa masuk ke ruang kelas juga diatur, cara belajar di kelas, penyampaian materi pelajaran di ruang kelas, istirahat, hingga pulang kembali ke rumah masing-masing.

"Saat awal juga kita cek juga surat izin orang tua dengan materai. Utamanya itu harus izin orang tua yang ikut simulasi ini," kata Samsu, Senin (3/8/2020).

Setiap hari, kata Samsu, hanya ada 18 siswa setiap tingkatan kelas yang datang ke sekolah.

Proses simulasi belajar tatap muka ini hanya berlangsung hingga 28 Agustus 2020.

Waktu belajar juga mulai pukul 08.00 hingga 11.00 WIB.

"Tiap harinya kita atur siapa siapa saja yang datang. Karena durasi kita tanggal 3 sampe 28 Agustus maka ada kemungkinan siswa ikut sekali saja," tutur dia.

Tidak ada izin rekomendasi

Namun akhirnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) meminta Pemerintah Kota Bekasi menghentikan kegiatan simulasi belajar tatap muka.

Hal itu diungkapkan Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (PAUD Dikdasmen) Kemendikbud, Jumeri, ketika dihubungi Wartakotalive.com, pada Rabu (5/8/2020).

Jumeri mengungkapkan meskipun sifatnya simulasi, Pemkot Bekasi tidak ada izin rekomendasi terkait pelaksanaan tersebut.

Dikhawatirkan pelaksanaan simulasi itu menimbulkan kasus Covid-19.

"Kami sudah mengirimkan surat kepada Pemerintah Kota Bekasi untuk bisa menghentikan proses itu," ujarnya.

Ia meminta Pemkot Bekasi mengikuti ketentuan SKB Empat Menteri.

Sebab, Kota Bekasi sendiri belum masuk zona hijau.

Terkait dalih Pemkot Bekasi yang menyebut ini hanya simulasi, bukan belajar tatap muka sesungguhnya.

Jumeri menerangkan simulasi hanya boleh dilakukan dalam satu hingga dua hari saja bukan untuk jangka waktu yang panjang.

"Ya sekedar sehari ataupun dua hari memasukkan anak-anak untuk melakukan simulasi dan dibuatkan video untuk disebar kemana-mana itu diperbolehkan. Tapi terus melakukan tatap muka rutin ya tidak, intinya tidak boleh ya," ungkapnya.

Sumber : tribunnews