Mendikbud Nadiem Kembali Ingatkan Guru Untuk Tidak Bebani Siswa dengan Tugas dan Materi yang Berat Selama PJJ

Mendikbud Nadiem Kembali Ingatkan Guru Untuk Tidak Bebani Siswa dengan Tugas dan Materi yang Berat Selama PJJ

Kamis, 10 September 2020

SELAMAT! SD SMP SMA di 104 Kabupaten Ini Boleh Belajar Tatap Muka Senin 13  Juli 2020 Besok, Cek List - Tribunnewsmaker.com

Mendikbud.my.id - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim meminta guru untuk fokus pada materi esensial selama pandemi Covid-19.

Pemerintah memperbolehkan guru untuk menyederhanakan kurikulum secara mandiri. Guru juga bisa masih mengacu pada kurikulum nasional 2013. Kemendikbud juga telah meluncurkan kurikulum darurat yang menyederhanakan kompetensi dasar untuk setiap mata pelajaran.

Menurut Nadiem, perampingan kurikulum ini agar guru-guru dan siswa bisa fokus pada materi yang lebih esensial, serta kompetensi yang menjadi prasyarat untuk kelanjutan pembelajaran di tingkat berikutnya.

“Dari opsi kurikulum yang dipilih, catatannya adalah siswa tidak dibebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan, dan pelaksanaan kurikulum (darurat) berlaku sampai akhir tahun ajaran,” tegas Mendikbud Nadiem dalam konferensi pers daring, Jumat (7/8/2020).

Tak hanya itu, pemerintah juga telah mempersiapkan modul belajar bagi guru, orang tua, dan siswa tingkat PAUD dan SD. Adapun modul untuk PAUD difokuskan kepada kegiatan bermain untuk menghilangkan rasa bosan di rumah. Sementara itu, modul untuk jenjang SD fokus pada literasi, numerasi, dan kecakapan hidup.

"Proses pembelajaran ini dihubungkan dalam kegiatan sehari-hari yang kontekstual, sehingga dia bisa berpartisipasi dengan kegiatan orang tuanya," kata Nadiem.

Secara terpisah, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kemendikbud menyatakan guru, orang tua, dan siswa mengalami banyak kendala di tengah masa kebiasaan baru berdasarkan berbagai hasil survei.

Dengan adanya kurikulum darurat ini, satuan pendidikan bisa lebih fleksibel dalam memilih kurikulum sesuai dengan kondisi peserta didik.

“Kurikulum kondisi khusus ini juga bisa mengurangi beban guru dan siswa,” kata Iwan dalam webinar, Sabtu (8/8/2020).

Asesmen Diagnostik

Kemendikbud meminta kepada guru untuk melakukan asesmen diagnostik secara berkala di semua kelas.

“Asesmen ini untuk mendiagnosis kondisi kognitif dan non kognitif siswa sebagai dampak pembelajaran jarak jauh,” tutur Iwan.

Adapun asesmen non-kognitif berkaitan dengan aspek psikologis dan kondisi emosional siswa, seperti kesejahteraan psikologi dan sosial emosi siswa, kesenangan siswa selama belajar dari rumah, serta kondisi keluarga siswa. Asesmen kognitif mengukur kemampuan dan capaian pembelajaran siswa.

Hasil asesmen bisa menjadi acuan pemilihan strategi pembelajaran. Guru juga bisa memberikan remedial atau pelajaran tambahan bagi peserta didik yang tertinggal.

Sumber : beritasatu