Mendikbud Nadiem Kembali Ingatkan : Siswa Tidak Perlu Bimbel Khusus untuk Asesmen Nasional 2021

Mendikbud Nadiem Kembali Ingatkan : Siswa Tidak Perlu Bimbel Khusus untuk Asesmen Nasional 2021

Minggu, 18 Oktober 2020


Merdekabelajar.my.id - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memutuskan untuk mengganti Ujian Nasioan (UN) dengan Asesmen Nasional pada 2021. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim meminta agar pihak sekolah dan orang tua tidak perlu cemas terkait pergantian rersebut.

"Tidak usah cemas, tidak perlu bimbel khusus untuk Asesmen Nasional. Mari kita semua bersama-sama mendukung pelaksanaan Asesmen Nasional mulai tahun 2021, sebagai bagian dari reformasi pendidikan Indonesia," kata Nadiem dalam akun instagram Kemdikbud.ri, dikutip merdeka.com, Senin (12/10).

Dia mengatakan, pihaknya akan membantu sekolah dan Dinas Pendidikan dengan cara menyediakan laporan hasil asesmen yang menjelaskan profil kekuatan dan area perbaikan di tiap sekolah dan daerah. Asesmen Nasional dirancang tidak hanya sebagai pengganti ujian nasional dan ujian sekolah berstandar nasional, tetapi sebagai penanda perubahan paradigma tentang evaluasi pendidikan. Perubahan mendasar pada Asesmen Nasional adalah tidak lagi mengevaluasi capaian murid secara individu, tetapi mengevaluasi dan memetakan sistem pendidikan berupa input, proses dan hasil.

"Potret layanan dan kinerja setiap sekolah dari hasil Asesmen Nasional ini kemudian menjadi cermin untuk kita bersama-sama melakukan refleksi, mempercepat perbaikan mutu pendidikan Indonesia," kata Nadiem.

Nadiem merinci Asesmen Nasional terdiri dari tiga bagian, yaitu Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar. Asesmen Kompetensi Minimun atau AKM dirancang untuk mengukur capaian peserta didik dari hasil belajar kognitif yaitu literasi dan numerasi.

"Kedua aspek kompetensi minimum ini, menjadi syarat bagi peserta didik untuk berkontribusi di dalam masyarakat, terlepas dari bidang kerja dan karier yang ingin mereka tekuni di masa depan," ungkap Nadiem.

Selanjutnya, kata Nadiem, fokus kepada kemampuan literasi dan numerasi. Namun, kata dia, hal tersebut tidak mengecilkan arti penting mata pelajaran. Sebab menurut dia hal tersebut justru membantu murid mempelajari bidang ilmu lain terutama untuk berpikir dan mencerna informasi dalam bentuk tertulis dan dalam bentuk angka atau secara kuantitatif.

"Jadinya kemampuan literasi dan numerasi adalah kemampuan yang akan berdampak kepada semua mata pelajaran yang diajarkan dan dipelajari oleh murid-murid kita," ungkap Nadiem.

Asesmen kedua kata Nadiem yaitu survei karakter. Hal tersebut dirancang untuk mengukur pencapaian murid dari hasil belajar sosial-emosional berupa pilar karakter untuk mencetak Profil Pelajar Pancasila.

"Enam indikator utama (Survei Karakter) yaitu beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME serta berakhlak mulia, kebinekaan global, kemandirian, gotong royong, bernalar kritis dan kreativitas," tutur Nadiem.

Asesmen terakhir yaitu Survei Lingkungan Belajar. Nadiem menjelaskan hal tersebut dirancang untuk mengevaluasi dan memetakan aspek pendukung kualitas pembelajaran di lingkungan sekolah.

"Asesmen Nasional pada tahun 2021 dilakukan sebagai pemetaan dasar (baseline) dari kualitas pendidikan yang nyata di lapangan, sehingga tidak ada konsekuensi bagi sekolah maupun murid," kata Nadiem.